PANGANDARAN, iNewsPangandaran.id - Warga diminta jangan asal lahap makanan, apalagi yang sudah disimpan dalam waktu lama. Soalnya, di balik tampilan yang masih “aman”, bisa saja makanan tersebut sudah berubah jadi ancaman serius bagi kesehatan.
Peringatan ini disampaikan Nutrisionis RSUD Pandega Pangandaran, Ijni Kusmuliya, yang mengingatkan pentingnya kepekaan masyarakat dalam mengenali tanda-tanda makanan tak layak konsumsi.
Menurutnya, masih banyak warga yang abai terhadap perubahan kondisi makanan. Padahal, tanda-tandanya cukup jelas dan mudah dikenali jika lebih teliti.
“Jangan langsung dikonsumsi. Cek dulu bau, warna, tekstur, dan rasa. Kalau ada yang mencurigakan, lebih baik jangan dimakan,” tegasnya.
Ia membeberkan, salah satu tanda paling umum adalah perubahan aroma. Makanan yang mulai rusak biasanya mengeluarkan bau asam, tengik, atau aroma tak wajar akibat proses pembusukan.
Tak hanya itu, tekstur juga bisa jadi “alarm bahaya”. Permukaan makanan yang terasa berlendir, lengket, atau terlalu lembek patut dicurigai. Sementara pada buah dan sayur, kondisi yang sudah terlalu layu juga menjadi sinyal kualitasnya menurun.
“Perubahan warna juga jangan dianggap sepele. Kalau sudah kusam, menghitam, kehijauan, atau muncul bercak aneh, itu bisa jadi tanda ada mikroorganisme berkembang,” jelasnya.
Yang lebih berbahaya lagi, jika sudah muncul jamur. Biasanya ditandai dengan bintik putih, hijau, atau abu-abu. Dalam kondisi ini, makanan tidak cukup dibuang sebagian saja.
“Kalau sudah berjamur, harus dibuang semuanya. Jangan nekat dipotong lalu dimakan sisanya,” ujarnya mengingatkan.
Dari sisi rasa pun tak kalah penting. Makanan yang berubah menjadi asam, pahit, atau tengik jelas sudah tak aman untuk dikonsumsi.
Ijni menegaskan, konsumsi makanan rusak bisa memicu berbagai gangguan kesehatan, mulai dari mual, muntah, diare, hingga keracunan. Bahkan, dampaknya bisa lebih parah bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan ibu hamil.
Ia pun mengimbau warga agar lebih disiplin dalam menyimpan makanan, selalu mengecek tanggal kedaluwarsa, serta menjaga kebersihan saat mengolah makanan.
“Lebih baik buang makanan yang diragukan daripada harus menanggung risiko kesehatan,” pungkasnya.
Editor : Irfan Ramdiansyah
Artikel Terkait
