Tanpa banyak basa-basi, Ketua PMI yang baru itu langsung naik ke kursi donor darah. Bukan simbolis. Bukan pura-pura. Bukan pencitraan setengah hati.
Joe benar-benar menyumbangkan darahnya sendiri, seolah ingin mengatakan bahwa jabatan bukan hanya soal memimpin dari belakang meja, tapi ikut turun tangan, atau dalam hal ini, “turun lengan.”
Petugas yang menangani proses donor pun sempat tertegun. Seorang ketua baru, turun hari pertama, dan langsung mendonorkan darah? Itu bukan pemandangan biasa.
“Semoga ini jadi contoh, bahwa kita bergerak dulu sebelum menyuruh orang lain bergerak,” ujar Joe sambil tersenyum setelah kantong darahnya mulai terisi.
Kunjungan perkenalan berubah menjadi momen simbolik penuh pesan, PMI di bawah kepemimpinannya bukan hanya akan bekerja, tetapi bergerak, bernapas, dan berdenyut seperti darah yang selalu menghidupi manusia.
Dengan langkah santai namun penuh makna, Joe meninggalkan kantor PMI. Tapi satu hal jelas, sore itu, bukan hanya pintu kantor yang terbuka… harapan baru juga ikut mengalir.
Editor : Irfan Ramdiansyah
Artikel Terkait
