Dari Swiss, Putra Cikembulan Sentil Pariwisata Pangandaran: Jangan Cuma Kejar Wisatawan!
PANGANDARAN, iNewsPangandaran.id - Sudah puluhan tahun meninggalkan Pangandaran, bukan berarti melupakan tanah kelahirannya. Pardi (53), mantan pemandu wisata (tour guide) Pangandaran era 1980-1990-an yang kini menetap di Reinach BL, Swiss, ternyata masih mengikuti perkembangan daerah yang pernah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.
Momentum Milangkala ke-14 Kabupaten Pangandaran menjadi perhatiannya. Dari kejauhan, Pardi ikut mencermati perjalanan daerah yang pernah menjadi salah satu destinasi wisata andalannya itu.
Saat dihubungi melalui pesan WhatsApp, Pardi menyampaikan pandangannya bahwa perkembangan pariwisata Pangandaran secara kuantitas memang cukup pesat. Namun, menurut dia, pertumbuhan tersebut belum sepenuhnya dibarengi peningkatan kualitas destinasi.
Ia menilai, pembenahan pariwisata tidak cukup hanya dengan membangun dan memperbaiki infrastruktur jalan. Masih banyak aspek lain yang perlu mendapat perhatian serius, mulai dari fasilitas parkir, toilet umum, pengelolaan limbah, kebersihan lingkungan, hingga sistem retribusi dan pengawasan.
"Secara kuantitas, pariwisata Pangandaran berkembang cukup pesat. Namun, pertumbuhan tersebut belum sepenuhnya diimbangi dengan peningkatan kualitas, baik dari sisi hardware (infrastruktur dan fasilitas) maupun software (regulasi dan tata kelola)," ungkap Pardi.
Ada satu gagasan sederhana yang ditawarkan mantan tour guide asal Desa Cikembulan Kecamatan Sidamulih Kabupaten Pangandaran tersebut. Ia mengusulkan agar setiap wisatawan yang membayar tiket masuk atau retribusi diberikan kantong sampah ramah lingkungan yang bisa didaur ulang (recyclable).
Menurutnya, kantong sampah tersebut bukan sekadar fasilitas tambahan, melainkan sarana edukasi agar setiap wisatawan memiliki kesadaran dan tanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkan selama berkunjung.
Dengan cara itu, budaya menjaga kebersihan tidak hanya menjadi slogan atau imbauan, tetapi menjadi bagian dari pengalaman wisata setiap pengunjung.
"Tentu, kebijakan ini harus didukung fasilitas pengumpulan dan pengelolaan sampah yang memadai," jelasnya.
Pardi juga mengingatkan bahwa kemajuan pariwisata tidak semestinya hanya diukur dari banyaknya wisatawan yang datang. Kualitas pelayanan, kenyamanan, kebersihan, serta keberlanjutan lingkungan harus menjadi perhatian utama.
Baginya, Pangandaran memiliki potensi besar untuk terus berkembang. Namun, potensi tersebut perlu diimbangi dengan tata kelola destinasi yang lebih baik.
"Sudah saatnya Pangandaran tidak hanya mengejar kuantitas kunjungan, tetapi juga kualitas destinasi. Pariwisata yang maju bukan hanya ramai pengunjung, tetapi bersih, tertata, nyaman, dan berkelanjutan," tegasnya.
Pandangan dari seorang mantan pemandu wisata yang kini tinggal jauh di Swiss itu menjadi pengingat bahwa perjalanan 14 tahun Kabupaten Pangandaran bukan hanya soal pembangunan dan angka kunjungan wisatawan, tetapi juga bagaimana menjaga kualitas destinasi agar tetap menjadi kebanggaan daerah.
Editor: Irfan Ramdiansyah