get app
inews
Aa Text
Read Next : Run Race Ramadhan Pangandaran 2026 Segera Digelar, Adu Cepat 100 Meter Berhadiah Jutaan

Bukan Pahala, Bisa Jadi Dosa! Aksi Sahur Brong Disorot Pimpinan Ponpes Riyadussalikin

Senin, 02 Maret 2026 | 20:22 WIB
header img
Ilustrasi bangunkan sahur dengan menggeber motor knalpot brong. ( Foto: Ai)

PANGANDARAN, iNewsPangandaran.id - Tradisi membangunkan sahur kembali menuai sorotan. Sejumlah remaja di beberapa titik wilayah Pangandaran memilih cara instan dengan menggeber knalpot brong di tengah malam. Bukannya menuai apresiasi, aksi tersebut justru memantik keluhan warga yang merasa terganggu waktu istirahatnya.

Suara bising yang memecah kesunyian dini hari itu dinilai bukan lagi sekadar tradisi, melainkan sudah masuk kategori meresahkan. Apalagi, Ramadan sejatinya identik dengan ketenangan, kekhusyukan, dan pengendalian diri.

Menanggapi fenomena tersebut, Pimpinan Pondok Pesantren Riyadussalikin, KH Luthfi Fauzi, menyampaikan pandangannya. Ia menegaskan bahwa membangunkan sahur merupakan amalan baik dan bagian dari syiar Islam. Namun, menurutnya, cara yang digunakan tetap harus menjunjung adab dan tidak menimbulkan mudarat bagi orang lain.

“Membangunkan sahur itu ibadah. Tapi kalau caranya dengan kebisingan, ugal-ugalan di jalan, apalagi membahayakan, itu bukan lagi kebaikan. Ramadan mengajarkan ketenangan dan akhlak,” tegas KH Luthfi.

Ia mengingatkan bahwa penggunaan knalpot brong tidak hanya melanggar aturan lalu lintas, tetapi juga berpotensi mengganggu orang sakit, lansia, hingga anak-anak yang sedang beristirahat. Niat baik, kata dia, tidak boleh menjadi pembenaran untuk tindakan yang merugikan orang lain.

Menurutnya, semangat anak muda di bulan Ramadan adalah hal yang positif. Energi tersebut seharusnya diarahkan pada kegiatan yang lebih bermanfaat dan terorganisir, bukan sekadar konvoi tanpa aturan.

KH Luthfi menilai, banyak alternatif yang lebih santun untuk membangunkan sahur. Tradisi kentongan, ronda sahur yang tertib, hingga penggunaan pengeras suara masjid dengan volume wajar bisa menjadi pilihan. Selain menjaga tradisi, cara-cara tersebut juga lebih mencerminkan nilai kebersamaan dan kepedulian sosial.

“Kalau niatnya baik, caranya juga harus baik. Jangan sampai ingin dapat pahala, tapi justru menimbulkan dosa karena mengganggu orang lain,” ujarnya mengingatkan.

Ia juga mengajak para orang tua, tokoh masyarakat, hingga aparat setempat untuk tidak tinggal diam. Pengawasan dan pembinaan dinilai penting agar euforia Ramadan tidak kebablasan. Menurutnya, pendekatan persuasif lebih efektif ketimbang sekadar menyalahkan.

“Anak muda itu energinya besar. Tugas kita membimbing supaya energi itu menjadi amal kebaikan, bukan sumber masalah,” tambahnya.

Lebih jauh, KH Luthfi berharap Ramadan tahun ini bisa dijalani dengan suasana yang lebih tertib, aman, dan penuh keberkahan. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk saling mengingatkan dengan cara yang santun, demi menjaga kekhusyukan ibadah puasa.

Fenomena sahur bising ini menjadi refleksi bersama bahwa meramaikan Ramadan bukan berarti menciptakan kegaduhan. Semangat boleh menyala, tetapi tetap harus dibingkai dengan adab, empati, dan rasa hormat terhadap sesama.

Sebab pada akhirnya, esensi Ramadan bukan terletak pada seberapa keras suara yang dibunyikan, melainkan seberapa dalam nilai kesabaran dan kepedulian yang dihidupkan dalam keseharian.

Editor : Irfan Ramdiansyah

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut