get app
inews
Aa Text
Read Next : Gerak Cepat PMI Bikin Haru, Citra Lontarkan Apresiasi: Relawan Pangandaran Tancap Gas ke Sumatera

Drainase Amburadul! Warga Simpang Ajo Adang Bupati Saat Tinjau Kawasan Wisata

Senin, 23 Februari 2026 | 20:11 WIB
header img
Warga Simpang Ajo Hadang Bupati Saat Tinjau Kawasan Wisata. ( Foto: pangandaran.inews.id )

PANGANDARAN, pangandaran.inews.id - Suasana peninjauan kawasan wisata di Simpang Ajo mendadak berubah tegang. Sejumlah warga tak lagi mampu menahan kesal. Mereka nekat menyetop langkah orang nomor satu di Kabupaten Pangandaran, Citra Pitriyami, saat melakukan inspeksi di kawasan wisata Pantai Pangandaran, Senin (23/02/2026).

Bukan tanpa alasan. Drainase yang amburadul dan tak kunjung dibenahi disebut-sebut menjadi biang kerok banjir langganan di kawasan Simpang Ajo. Setiap hujan turun, air bukannya mengalir ke saluran pembuangan, malah meluap ke badan jalan hingga merendam rumah dan kios warga.

“Pokoknya setiap hujan turun, air langsung masuk ke dalam rumah,” keluh Elis, salah seorang warga Pangandaran dengan nada geram.

Pantauan di lapangan menunjukkan kondisi drainase yang memprihatinkan. Sejumlah saluran terlihat tersumbat, bahkan ada yang tertutup bangunan. Air hujan tak lagi punya jalur untuk mengalir. Akibatnya, genangan di Jalan Simpang Ajo bisa mencapai kurang lebih 50 sentimeter.

Fanani, warga lainnya, mengaku sudah terlalu sering menghadapi situasi serupa. “Hujan sedikit saja sudah banjir, sampai sedengkul. Barang dagangan sering rusak,” ujarnya.

Bukan hanya permukiman yang terdampak. Kawasan wisata yang menjadi wajah Kabupaten Pangandaran ikut tercoreng. Lalu lintas tersendat, kendaraan terpaksa melambat menerobos genangan, bahkan wisatawan disebut-sebut sempat mengeluhkan kondisi tersebut.

Padahal, Simpang Ajo merupakan salah satu akses penting menuju kawasan Pantai Pangandaran, destinasi andalan di Kabupaten Pangandaran. Warga pun menilai, persoalan drainase ini bukan lagi sekadar masalah teknis, melainkan sudah menyangkut citra daerah wisata.

Aksi protes terjadi saat Bupati melakukan peninjauan sejumlah titik di kawasan pantai. Warga yang sudah lama memendam keluhan langsung mendatangi dan menyampaikan aspirasi secara terbuka. Mereka meminta solusi konkret, bukan lagi janji.

Beberapa warga bahkan menunjukkan langsung saluran drainase yang disebut “mati”. Air menggenang tanpa arah, sebagian tertahan material dan bangunan yang berdiri di atas jalur aliran. Warga berbicara dengan nada tinggi, tetapi masih dalam koridor penyampaian aspirasi.

Menanggapi protes tersebut, Citra Pitriyami menyatakan akan segera melakukan koordinasi dengan pihak terkait.

“Nanti saya akan panggil dua kepala desa untuk bersama-sama menyelesaikan banjir di seputaran Simpang Ajo,” ujarnya di hadapan warga.

Tak hanya meninjau drainase, Bupati juga terlihat mengecek proyek pembangunan IPAL di kawasan Pantai Barat Pangandaran bersama Kepala Dinas PUTRPRKP. Dalam peninjauan itu, tampak pula kondisi saluran pembuangan air limbah yang belum sepenuhnya optimal. Bahkan, sebuah perahu terlihat terdampar di saluran pembuangan air limbah, menambah kesan semrawut tata kelola kawasan.

Warga berharap, peninjauan tersebut tidak berhenti sebagai agenda seremonial semata. Mereka ingin ada langkah nyata dan terukur agar banjir tahunan tak lagi menjadi “tradisi” setiap musim hujan.

Salah satu temuan di lapangan adalah adanya drainase yang tertutup bangunan. Selain itu, saluran di lahan eks PT Startrust juga disebut-sebut bermasalah. Air tak mengalir sebagaimana mestinya, memperparah genangan saat hujan deras mengguyur.

Warga mendesak agar pemerintah daerah melakukan evaluasi menyeluruh, termasuk menertibkan bangunan yang berdiri di atas jalur saluran air. Mereka khawatir, jika dibiarkan, kondisi ini bisa semakin parah dan berdampak luas, terutama saat intensitas hujan tinggi.

“Jangan tunggu wisatawan komplain atau ada kerugian lebih besar. Kami ini sudah tiap tahun kebanjiran,” ucap salah satu warga lainnya.

Bagi warga Simpang Ajo, aksi menghadang Bupati bukan sekadar sensasi. Ini adalah puncak kekecewaan setelah bertahun-tahun hidup berdampingan dengan banjir. Mereka berharap, protes terbuka ini menjadi titik balik pembenahan drainase secara menyeluruh.

Drainase amburadul kini bukan lagi sekadar keluhan di warung kopi. Ia telah berubah menjadi suara lantang di hadapan pemimpin daerah. Warga menunggu bukti nyata pengerukan saluran, normalisasi aliran, hingga penataan ulang bangunan yang menutup jalur air.

Jika tidak segera dibenahi, Simpang Ajo terancam terus menjadi langganan genangan. Bukan hanya merugikan warga, tetapi juga mencoreng wajah pariwisata Pangandaran yang selama ini dibanggakan.

Kini bola ada di tangan pemerintah daerah. Warga sudah bersuara. Mereka tak ingin lagi rumah dan kios terendam setiap hujan turun. Mereka ingin Simpang Ajo benar-benar bebas banjir, bukan sekadar janji di atas kertas.

Editor : Irfan Ramdiansyah

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut