Hari Hemofilia Sedunia, Dokter Ingatkan: Wanita dan Anak Perempuan Juga Rentan
PANGANDARAN, iNewsPangandaran.id - Jangan anggap remeh luka kecil yang tak kunjung berhenti berdarah. Di balik tetesan darah yang terlihat sepele, bisa jadi tersimpan penyakit langka yang mengintai diam-diam, hemofilia.
Memperingati Hari Hemofilia Sedunia, Dokter Spesialis Anak di RSUD Pandega, Dyah Rahmawanti, angkat suara. Ia mengingatkan masyarakat Pangandaran agar tidak lagi menutup mata terhadap gangguan perdarahan seperti hemofilia dan Von Willebrand Disease (VWD).
Menurut Dyah, hemofilia bukan sekadar penyakit biasa. Ini adalah kelainan genetik yang membuat darah sulit membeku. Artinya, ketika orang normal hanya mengalami luka kecil yang cepat kering, penderita hemofilia justru bisa mengalami perdarahan lebih lama, bahkan dari goresan ringan sekalipun.
“Bagi sebagian orang, gejala ini muncul sejak kecil dan bisa sangat membahayakan jika tidak ditangani dengan benar. Sayangnya, masih banyak yang belum memahami kondisi ini,” tegas Dyah.
Yang lebih mengejutkan, selama ini hemofilia kerap dicap sebagai “penyakit laki-laki”. Perempuan dianggap hanya sebagai pembawa gen. Padahal, fakta medis berbicara lain. Banyak perempuan juga mengalami gejala perdarahan, tetapi sering tak disadari atau bahkan salah diagnosis.
Akibatnya? Mereka harus hidup bertahun-tahun dalam kebingungan. Mengalami mimisan berulang, memar tanpa sebab jelas, atau perdarahan hebat saat menstruasi tanpa tahu apa sebenarnya yang terjadi pada tubuh mereka.
Tahun ini, peringatan Hari Hemofilia Sedunia mengangkat tema “Access for All: Women and Girls Bleed Too”. Tema ini bukan sekadar slogan. Ini adalah tamparan keras bagi sistem kesehatan dan masyarakat yang masih memandang sebelah mata kondisi perempuan dan anak perempuan dengan gangguan perdarahan.
Dyah menjelaskan, hemofilia biasanya diturunkan dari orangtua dan terjadi karena tubuh kekurangan protein pembeku darah. Tanpa protein ini, tubuh kesulitan menghentikan perdarahan. Bahkan dalam kasus tertentu, perdarahan bisa terjadi secara spontan tanpa benturan atau luka yang jelas.
“Bukan hanya setelah cedera. Kadang tanpa sebab pun bisa terjadi perdarahan. Itu yang membuat kondisi ini berbahaya,” paparnya.
Ironisnya, akses pemeriksaan dan pengobatan belum sepenuhnya merata. Pemeriksaan faktor pembekuan darah masih belum dikenal luas oleh masyarakat. Padahal, deteksi dini bisa menjadi penyelamat hidup.
Di Pangandaran sendiri, Dyah berharap masyarakat mulai berani memeriksakan diri jika mengalami gejala mencurigakan. Jangan tunggu sampai kondisi memburuk.
Ia menegaskan bahwa layanan kesehatan seperti pemeriksaan faktor pembekuan dan ketersediaan obat harus terus didorong agar merata. Namun, di atas segalanya, kesadaran masyarakat adalah kunci utama.
“Pemerataan layanan dan edukasi kesehatan memang penting. Tapi kesadaran untuk datang ke dokter itu jauh lebih penting. Ayo periksakan diri jika ada keluhan, agar mendapatkan penanganan medis yang tepat,” pungkasnya.
Pesan ini menjadi pengingat keras: darah yang terus mengalir bukan hal sepele. Jangan sampai karena ketidaktahuan, nyawa menjadi taruhannya.
Hari Hemofilia Sedunia bukan sekadar seremoni tahunan. Ini adalah alarm bagi semua pihak bahwa perempuan dan anak perempuan juga bisa berdarah, dan mereka berhak mendapatkan perhatian serta akses pengobatan yang sama.
Editor : Irfan Ramdiansyah