Jejak Kuliner Khas Pangandaran, Pindang Gunung Tetap Menyala di N,Ter Food Kampung Wisata
PANGANDARAN, iNewsPangandaran.id - Di tengah gempuran kuliner modern, menu viral, dan sajian instan yang menjamur di kawasan wisata Pangandaran, satu masakan tua justru kembali mencuat ke permukaan. Namanya Pindang Gunung. Masakan sederhana, berkuah, pedas-asam, namun menyimpan cerita panjang tentang Pangandaran sebelum dikenal sebagai destinasi wisata.
Pindang Gunung bukan sekadar urusan perut. Ia adalah potongan sejarah yang direbus pelan-pelan oleh waktu. Masakan ini lahir dari masa ketika Pangandaran belum seramai sekarang, bahkan belum sepenuhnya menjadi pesisir wisata. Konon, wilayah ini dahulu masih berupa hutan, tempat orang gunung dan orang laut hidup berdampingan.
Cerita turun-temurun menyebutkan, ikan hasil tangkapan nelayan pesisir dibawa naik ke wilayah gunung. Di sanalah ikan dimasak oleh orang gunung dengan bumbu seadanya, lalu dibawa kembali turun ke pesisir untuk disantap bersama.
Dari dapur sederhana di perbukitan itulah, nama Pindang Gunung lahir dan bertahan hingga kini.

“Ini bukan cuma masakan ikan. Ini cerita tentang Pangandaran,” ujar Nanang Sanudin, yang akrab disapa Nanang Kartu putra daerah yang konsisten mengangkat kembali kuliner lokal tersebut.
Baginya, Pindang Gunung adalah identitas, bukan tren sesaat. Secara tampilan, Pindang Gunung memang tak neko-neko. Tapi jangan salah. Racikan bumbunya punya karakter kuat. Cabai rawit atau cengek khas Sunda, kunyit, terasi, bawang merah, garam, hingga penyedap rasa berpadu dalam kuah berwarna keruh kekuningan.
Rasa asamnya pun bukan dari asam jawa, melainkan honje. Jika honje sulit didapat, daun kedondong menjadi pengganti yang tetap mempertahankan aroma khas.
Soal ikan, Pindang Gunung tidak pilih-pilih. Hampir semua jenis ikan laut bisa digunakan, mulai dari mangmung, kakap merah, bawal hitam, hingga ikan kue. Yang terpenting, ikan harus segar dan kuahnya “jadi”. Dua syarat itu tak bisa ditawar.

Kini, di tengah geliat Kampung Wisata Pangandaran, Pindang Gunung kembali menemukan panggungnya. Salah satunya di kawasan N,Ter, yang terdiri dari N,Ter Food, N,Ter Bar, dan N,Ter Coffee.
Di tempat ini, masakan tradisional justru menjadi magnet, terutama saat momen libur panjang seperti Natal dan Tahun Baru.
Di N,Ter Food, Pindang Gunung diracik tanpa sentuhan bumbu instan. Semua diolah manual, dari dapur lokal. Bumbu ditumis hingga harum, ikan dimasak perlahan sampai kuah dan rempah menyatu. Hasilnya, rasa asam segar berpadu dengan pedas alami yang langsung “nempel” di lidah.
Saat disajikan, Pindang Gunung datang dalam mangkuk sederhana. Uap tipis mengepul, aroma rempah menyeruak. Potongan tomat segar dan daun kemangi masih hijau. Disantap dengan nasi hangat, menu ini kerap jadi alasan pengunjung nambah porsi.
Satu paket Pindang Gunung disajikan lengkap dengan nasi dan dua potong ikan berukuran besar. Porsi yang disebut-sebut cukup mengenyangkan, bahkan untuk penikmat makan berat. Harganya Rp35.000, sudah termasuk air minum. Harga yang dinilai masuk akal untuk rasa dan cerita sepanjang itu.
Namun pengalaman di N,Ter tak berhenti di meja makan. Setelah perut terisi, pengunjung bisa bergeser ke N,Ter Coffee atau N,Ter Bar. Kawasan ini mengusung konsep ruang terbuka, dikelilingi pepohonan, dengan dominasi desain kayu dan bata merah. Suasananya santai, sejuk, dan jauh dari kesan kaku.
Pada malam tertentu, alunan DJ live mengisi area bar. Musik mengalir pelan hingga menghentak, tanpa menenggelamkan obrolan pengunjung. Anak muda terlihat kongkow, wisatawan duduk berlama-lama, sebagian menikmati kopi, sebagian lain memilih minuman lain sambil berbagi cerita liburan.
Seorang wisatawan asal Jakarta, Andi, mengaku sengaja berburu Pindang Gunung saat libur Nataru.
“Datang buat liburan, nemu pindang gunung yang masih asli. Habis makan bisa ngopi atau duduk santai. Lengkap,” katanya.
Hal serupa diungkapkan Raka, pengunjung muda asal Bandung.
“Nongkrongnya dapet, makanannya juga dapet. Tapi pindang gunungnya yang paling ngena,” ujarnya singkat.
Meski N,Ter dikenal sebagai tempat kongkow anak muda, Pindang Gunung tetap menjadi pusat cerita. Di tengah kopi, bar, musik, dan suasana terbuka, masakan tradisional justru menjadi jangkar yang membuat pengunjung bertahan lebih lama.
Di Pangandaran, Pindang Gunung seolah mengingatkan bahwa wisata tak melulu soal pantai dan ombak. Ada dapur rakyat, ada cerita lintas gunung dan laut, ada rasa yang diwariskan tanpa perlu dikemas berlebihan. Dalam satu mangkuk Pindang Gunung, Pangandaran bercerita dengan caranya sendiri.
Editor : Irfan Ramdiansyah